seperti biasa, Aksi kami berjalan dengan damai dan normal-normal saja, saat kami mendatangi kantor gubernur DKI Jakarta, disanalah tragedi berdarah itu terjadi.
Korlap yang di pimpin oleh Basrizal, SH pengurus Asosiasiasi Serikat Pekerja (ASPEK) Indonesia sekaligus Advokat saat itu seakan menemukan kesialanya. betapa tidak, saat Orasi dan Aksi berjalan dengan tertib dan normal tiba-tiba dari arah barisan keamanan (Polisi) menyerang salah satu peserta Aksi, dan Polisi yang lainpun ikutan seakan telah disetting dan ada komando sebelumnya.
kontan peserta Aksi kalang kabut, dan ricuh akibat ulah Polisi itu. beruntung Basrizal segera tanggap dan berusaha melerai penganiayaan itu. terhadap tindakan yang diambil Basrizal bukanya mendukung, justru polisi beralih mengroyok dan mengahajar habis-habisan basrizal ibaratkan hewan, tidak berhenti sampai disitu. dia (Basrizal) dilemparkan bahasa mereka "amankan" kedalam pagar dan satpol PP menambahinya dengan pukulan lebih parah lagi, akibatnya mukanya memar dan tulang kanan pada tanganya patah.
Dengan ditangkapnya Korlap mereka berfikir, peserta Aksi akan gagap dan bingung. memang itulah kenyataanya. Namun entah dengan kekuatan darimana saya langsung mengambil alih komando dan berusaha meredam dan menenangkan peserta Aksi yang sedang panik dan ketakutan.
Saat saya menjalankan tanggungjawab itu dan melakukan Orasi lanjutan untuk menenangkan Massa, tiba-tiba salah satu Polisi dan disusul Polisi yang lainya serentak menyerang saya sambil memukul dan berusaha menangkap saya, beruntung beberapa kawan peserta Aksi tidak kalah gesitnya sehingga bisa menarik dan merebut saya dari hajaran dan kroyokan Polisi itu.
Massapun kembali ricuh, lagi-lagi polisilah penyebabnya bukan peserta Aksi yang seharusnya mereka lindungi.
peristiwa ini bukankah bentuk nyata dan cerminan kebodohan dan ketololan Polisi dan sistem keamanan yang kita miliki? beberapa hari sebelumnya ditempat lain juga terjadi penganiayaan oleh Oknum Polisi Polres Jakarta Utara terhadap Pekerja Bantuan Hukum dari LBH Jakarta. yaitu kawan Tommy dan Haris Barkah bahkan mereka sempat merasakan penjara.
Jikapun dibeberkan beberapa kebrutalan Polisi maupun satpol PP mungkin terlalu banyak, namun disini saya hanya ingin berbagi cerita (Curhat) sebuah resiko perjuangan ternyata tidak segampang yang aku bayangkan selama ini, yaitu bisa bersama-sama dengan penegak Hukum yang lain (Polisi), Hakim, Jaksa dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadialan.
Namun kerap justru penegak Hukumnyalah yang perlu dibenahi. dalam konteks ini adalah Polisi dan satpol PP. yang terakhir ini gak jelas dia itu sebagai apa...bersambung