Macam

27 Agustus 2009

kebrutalan Polisi dan satpol PP, sebuah Tragedi dibulan Agustus..

Pada Rabu, 12 Agustus 2009 lalu Aku bersama dengan Ratusan buruh dari Serikat Pekerja PT Bambi melakukan Aksi turun jalan untuk menuntut Perusahaan memberikan Hak-hak Normatif yang seharusnya diberikan sesuai dengan Undang-undang No. 13 tahun 2003. aksi itu dilakukan pada dua titik yaitu di PT Bambi dan terakhir di Kantor Gubernur DKI Jakarta.

seperti biasa, Aksi kami berjalan dengan damai dan normal-normal saja, saat kami mendatangi kantor gubernur DKI Jakarta, disanalah tragedi berdarah itu terjadi.

Korlap yang di pimpin oleh Basrizal, SH pengurus Asosiasiasi Serikat Pekerja (ASPEK) Indonesia sekaligus Advokat saat itu seakan menemukan kesialanya. betapa tidak, saat Orasi dan Aksi berjalan dengan tertib dan normal tiba-tiba dari arah barisan keamanan (Polisi) menyerang salah satu peserta Aksi, dan Polisi yang lainpun ikutan seakan telah disetting dan ada komando sebelumnya.

kontan peserta Aksi kalang kabut, dan ricuh akibat ulah Polisi itu. beruntung Basrizal segera tanggap dan berusaha melerai penganiayaan itu. terhadap tindakan yang diambil Basrizal bukanya mendukung, justru polisi beralih mengroyok dan mengahajar habis-habisan basrizal ibaratkan hewan, tidak berhenti sampai disitu. dia (Basrizal) dilemparkan bahasa mereka "amankan" kedalam pagar dan satpol PP menambahinya dengan pukulan lebih parah lagi, akibatnya mukanya memar dan tulang kanan pada tanganya patah.

Dengan ditangkapnya Korlap mereka berfikir, peserta Aksi akan gagap dan bingung. memang itulah kenyataanya. Namun entah dengan kekuatan darimana saya langsung mengambil alih komando dan berusaha meredam dan menenangkan peserta Aksi yang sedang panik dan ketakutan.

Saat saya menjalankan tanggungjawab itu dan melakukan Orasi lanjutan untuk menenangkan Massa, tiba-tiba salah satu Polisi dan disusul Polisi yang lainya serentak menyerang saya sambil memukul dan berusaha menangkap saya, beruntung beberapa kawan peserta Aksi tidak kalah gesitnya sehingga bisa menarik dan merebut saya dari hajaran dan kroyokan Polisi itu.

Massapun kembali ricuh, lagi-lagi polisilah penyebabnya bukan peserta Aksi yang seharusnya mereka lindungi.

peristiwa ini bukankah bentuk nyata dan cerminan kebodohan dan ketololan Polisi dan sistem keamanan yang kita miliki? beberapa hari sebelumnya ditempat lain juga terjadi penganiayaan oleh Oknum Polisi Polres Jakarta Utara terhadap Pekerja Bantuan Hukum dari LBH Jakarta. yaitu kawan Tommy dan Haris Barkah bahkan mereka sempat merasakan penjara.

Jikapun dibeberkan beberapa kebrutalan Polisi maupun satpol PP mungkin terlalu banyak, namun disini saya hanya ingin berbagi cerita (Curhat) sebuah resiko perjuangan ternyata tidak segampang yang aku bayangkan selama ini, yaitu bisa bersama-sama dengan penegak Hukum yang lain (Polisi), Hakim, Jaksa dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadialan.

Namun kerap justru penegak Hukumnyalah yang perlu dibenahi. dalam konteks ini adalah Polisi dan satpol PP. yang terakhir ini gak jelas dia itu sebagai apa...bersambung

27 Juni 2009

Golput adalah Hak Asasi

oleh : Fauzi

Golput (Golongan Putih) dalam sejarahnya telah sejak lama ada dalam iklim demokrasi Negri yang konon menganut demokrasi Pancasila ini. bahkan konon fenomena Golput diawali ketika penyelenggaran Pemilu (Pemilihan Umum) pertama di Indonesia tahun 1955. dimana saat itu fenomena Golput dipandang sebagai ketidaktahuan masyarakat akan Pemilu. selanjutnya fenomena itu berkembang terus menerus, hingga pada tahun 1971 tepatnya tanggal 3 Juni sebulan sebelum pelaksanaan Pemilu di Gedung Balai Budaya Jakarta dipenuhi oleh banyak pengunjung. saat itulah dengan lantang seorang Arief Budiman didampingi beberapa aktivis mahasiswa dan pemuda lainnya mendeklarasikan sebuah gerakan moral sebagai sebuah tindakan protes terhadap sistem.

Gerakan inilah cikal sebuah gerakan moral yang hingga hari ini menjadi dengungan yang membuat kuping para kandidat panas karena cemas, membuat takut para pemodal yang dengan aktif memberikan modal besar biar mendapatkan dukungan. kecemasan dan ketakutan itu terbuktikan dengan fatwa haram Golput yang dikeluarkan oleh MUI. sebuah lembaga yang dikenal selalu mengeluarkan fatwa-fatwa yang irrasional dan kontroversial. pengharaman facebook dan lain sebagainya.

Gerakan moral itu mereka namakan dengan “Golongan Putih (Golput)”. Meskipun beberapa saat setelah itu sejumlah 34 eksponen Golput harus mendekam dalam penjara karena ditahan oleh penguasa, tapi wacana ini sudah menjadi isu hangat dan terus bergulir kencang hingga saat ini. Dan, bahkan hingga beberapa hari menjelang Pemilu Capres dan Cawapres mendatang masih relevan untuk dibincangkan. hal ini juga dilakukan oleh Sri Bintang Pamungkas dan beberapa aktivis lain pada Mei lalu di Yogyakarta meskipun acara itu kemudian dibubarkan dengan alasan tidak ada pemberitahuan dan izin kepada kepolisian.

Golput, baik sebagai Gerakan moral maupun sebagai sikap antipati terhadap sistem pemilu yang ada adalah dua hal berbeda.meskipun keduanya sama-sama tidak memberikan haknya saat Pelaksanaan pemilu. yang pertama adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap sistem yang dianggap tidak sesuai dengan tatanan yang ideal dan yang kedua sebagai bentuk kemalasan, ketidak pedulian terhadap apapun menyangkut bangsa ini dan lain sebagainya.

besambung..

27 Februari 2009

SEPERTI ASAP ROKOK…

Oleh: Wong Ndezo

Hari ini betul-betul beda dengan hari biasanya. Biasanya dia mengingatkan sekedar untuk sholat, atau mengajak makan bareng meski lewat telepon. Bahkan kerap dia bangunkan saat ku lelap dalam mimpi. Itu adalah kebiasaan yang tidak lagi aku temui sekarang. kini dia tidak mungkin lagi mendengar keluhanku, atau jikapun dia bersedia mendengarnya, aku tidak akan bakalan mau lagi, bukanya aku tidak percaya lagi kepadanya, bukan pula aku telah ada ganti yang lebih baik.

Dadaku terasa sesak, nafaskupun seperti berhenti begitu saja. Tidak, sepertinya tidak separah dan stragis itu. Bahkan ini terkesan didramatatisir. Mungkin itu sebatas bahasa yang dapat aku ungkapkan untuk meniru para cerpenis, novelis atau para sastrawan ketika mereka menuliskan karyanya, pandai meracik bahasa dengan sangat indahnya, puitis, eksotik mereka sering bilang. Walaupun terkadang aku sendiri kerap tertantang untuk ikut-tan mencoba menulis fenomena disekitarku. Tentang aku, kamu, dia, mereka dan semuanya.

Termasuk apa yang baru saja aku alami,

“Mas, klu memang sulit memaafkan saya, jangan dipaksa. Lepaskan saya dengan segala komitmen kita, ikhlaskan saya lepas dari ikatan semu ini. Please! ”

Demikian sms terakir yang aku terima dari kartika, saat kami memutuskan untuk tidak lagi mewujudkan komitment yang telah dibangun sebelumnya. Ia adalah seorang yang sebelumnya aku pilih untuk menjadi pendamping akhir hidupku dari pengembaraan yang panjang. Seseorang yang aku harap bisa menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Namun semua berjalan begitu saja, tidak bisa dibaca ataupun diprediksi perjalanan terakhir akan berlabuh kemana dan dengan siapa. Nyatanya semua berjalan begitu saja.

Rokokku habis, ini adalah batang terahir dari tadi siang saat aku membelinya ditoko sebelah. Djarum super filter keluaran terbaru dengan harga baru juga tentunya, walaupun seminggu yang lalu MUI mengeluarkan fatwa haram rokok bagi para wanita dan anak-anak. Rokok malah terasa nikmat, padahal sebelumnya aku pernah janji pada kartika tidak akan merokok, tidak tahu mengapa aku bisa meninggalkan rokok sama sekali saat itu, hingga sekarang akupun merokok lagi, tidak tahu mengapa, aku telah beda dari biasanya.

Kurang dari setahun aku tinggalkan asap beracun nikotin mematikan ini, semua teman dan orang-orang terdekatku heran mengapa aku bisa berhenti merokok.

“pokonya kalau ada niat apa sih yang tidak mungkin, semuanya akan mudah kok, buktinya aku bisa tuh meninggalkan kebiasaan merokokku”


Demikian jawabanku pada kawan-kawan, saat mereka bertanya :

“kok bisa sih prend, berhenti merokok, padahal kamu kan kayak kenalpot dulu?”

Wualah aku betul-betul berbeda dari biasanya, pikirku dalam hati.


***


Sore yang cukup indah, tidak hujan sebagaimana biasa. Bunga didepan dan samping rumah bermekaran, angin sepoi-sepoi menggugahku untuk semakin semangat lagi menjalani hidup. Puluhan anak berlarian kesana-kemari, main kejar-kejaran sesekali menggoda aku yang sedang bermain badminton, mereka sangat menggemaskan.

Akhirnya aku duduk karena kecapean direrumputan taman kecil tidak jauh dari anak-anak bermain. Aku mengamati anak-anak itu bermain, betapa cerianya mereka. “ups,!!” satu anak perempuan menangis karena kakinya terinjak oleh teman yang lain. Dia mengaduh tapi tidak lama kemudian karena ada teman lain yang ketawa dia akhirnya ketawa juga, seakan melupakan dan tidak peduli dengan rasa sakitnya. Seketika itu dia lansung ceria. Dan bermain lagi sebagaimana biasa.

Aku amati terus permainan anak-anak itu, ada hal yang menarik pada anak-anak yang tidak aku miliki atau pada kebanyakan orang dewasa lainya. Mereka bersedih sebentar, dan begitu cepatnya membuang kesedihan itu dan sesegera melupakanya. Bahkan tidak ada dendam atau usaha untuk menyakiti sesama. Kalaupun tersakiti karena ketidaksengajaan yang lain begitu saja mereka memaafkan bahkan langsung beraktifitas lagi seperti biasa. Luar biasa…!

“aku malu pada mereka, dan pada diriku sendiri. bahkan waktu dan kesempatanku sering terbuang hanya untuk bersedih, menyesal atas peristiwa yang telah terjadi.”

kataku dalam hati saat mengamati mereka.

Hari ini betul-betul hari yang indah, semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Walaupun tidak seperti biasanya, tanpa dia. Aku masih bisa menikmati rokokku, menghisapnya dan mengeluarkan kembali menjadi bentuk mirip bola kemudian hilang bersama angin entah kemana.

Bagaikan asap rokok, kau ku hisab sebentar kunikmati…aku keluarkan lagi, dan aku tidak tahu hilang kemana setelah itu, aku tidak peduli. Aku menghisapnya lagi, aku keluarkan menjadi mirip bola dan kemudian hancur terbang entah kemana….!

My Mother